MERDEKA INSTITUTE – Korban keracunan makanan yang diduga berasal dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini menimpa 16 siswa SDN 12 Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar), pada Selasa (23/9/2025) siang.
Saat ini para siswa yang menjadi korban sedang dirawat di RSUD dr Agoesdjam Ketapang.
Sebelumnya, para siswa mengeluhkan gejala muntah dan sesak napas usai makan.
Mereka sempat mendapat perawatan di sekolah. Karena kondisinya semakin mengkhawatirkan, para siswa dirujuk ke puskesmas, sebelum akhirnya dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Agoesdjam Ketapang.
Kepala SDN 12 Benua Kayong Dewi Hardina membenarkan adanya siswa yang muntah dan sesak nafas usai makan menu MBG. Ia pun mengaku mencurigai kondisi menu yang dikonsumsi siswanya hari ini. Adapun menu yang disajikan berupa ikan serta sayuran kol dan wortel.
Kasus keracunan di Kalbar ini tentunya menambah daftar korban, meski jumlahnya berbeda bergantung dengan sumbernya.
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat, hingga 22 September 2025, jumlah total korban keracunan yang diakibatkan oleh program MBG mencapai 4.711 orang, dan menjadikannya korban Kejadian Luar Biasa (KLB). Data ini merinci 45 kasus dugaan keracunan di tiga wilayah.
Sementara, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), mencatat adanya lonjakan kasus hingga mencapai 6.452 kasus per 21 September 2025. JPPI sebelumnya mencatat 5.360 kasus keracunan hingga pertengahan September 2025.
Istana Kepresidenan melalui Kepala Staf Presiden (KSP), mengakui bahwa jumlah korban keracunan MBG berada di angka lebih dari 5.000 orang.
Perbedaan data ini disebabkan oleh pemantauan dari lembaga yang berbeda, namun secara umum, angka korban berada di kisaran 4.700 hingga 6.400 orang.
Berdasarkan data hingga September 2025, kasus keracunan program MBG tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, seperti Badan Gizi Nasional (BGN), Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), dan laporan media, menunjukkan beberapa wilayah dengan kasus tertinggi:
- Jawa Barat
- Total Korban: Sebanyak 2.012 kasus tercatat di provinsi ini, menjadikannya wilayah dengan kasus keracunan MBG tertinggi. Korban di Jawa Barat meliputi beberapa wilayah sebagai berikut:
- Bandung Barat: 301 siswa di Kecamatan Cipongkor. Korban dirawat di Puskesmas Cipongkor (116 orang), Posko Kecamatan Cipongkor (253 orang), Klinik Permata (44 orang), dan beberapa rumah sakit lainnya.
- Garut: 569 siswa di Kecamatan Kadungora mengalami gejala keracunan, seperti sakit perut parah.
- Cianjur: 78 siswa dari MAN 1 dan SMP PGRI 1 Cianjur.
- Kota Bandung: 320 siswa di SMP Negeri 35.
- Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
- Total Korban: Tercatat 1.047 kasus keracunan. Berikut cakupan wilayahnya:
- Kulon Progo: 305 orang di SPPG Wates.
- Sleman: 157 orang di SPPG Mlati, dan 137 orang di SPPG Berbah, Jogotirto.
- Jawa Tengah
- Total Korban: Sebanyak 722 kasus yang terjadi di sejumlah wilayah berikut:
- Sragen: 196 orang di SPPG Gemolong.
- Wonogiri: 131 orang di SPPG Wonokarto.
- Karanganyar: Dua siswa dan satu kepala sekolah di SD Wonorejo.
- Bengkulu
- Total Korban: Sebanyak 539 kasus yang antara lain terjadi di wilayah berikut:
- Lebong: 467 orang di SPPG Lebong Sakti Lemeu Pit.
- Empat Lawang: 8 siswa di SD Negeri 7 Tebing Tinggi.
- Sulawesi Tengah
- Total Korban: Sebanyak 446 kasus, antara lain:
- Banggai Kepulauan: 314 siswa dari berbagai tingkat SD hingga SMA.
Wilayah dan Sekolah Lainnya:
Nusa Tenggara Timur (NTT):
Kupang: 140 siswa SMP Negeri 8.
Sumba Barat Daya: 65 siswa dari tiga sekolah.
Riau: 28 siswa di SDN 032 Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir.
Sumatera Selatan: 503 orang di SPPG Sukabumi, Lampung; 174 siswa dari 14 sekolah di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Sumbawa: 106 orang di SPPG Empang, Bungaeja 2.
Alasan Keracunan:
Penyelidikan mendalam masih berlangsung, namun dugaan awal penyebab keracunan mengarah pada beberapa faktor.
- Makanan Basi: Keterangan dari beberapa siswa dan pihak sekolah menyebutkan bahwa menu makanan yang dibagikan terindikasi basi. Dugaan ini muncul karena menu seperti ayam, tahu, dan nasi memiliki aroma yang tidak sedap atau rasa yang asam.
- Kontaminasi Bakteri: Kasus keracunan MBG di beberapa daerah sebelumnya menunjukkan adanya kontaminasi bakteri, seperti E.coli dan Salmonella. Kontaminasi ini dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain:
- Proses Memasak dan Distribusi yang Tidak Tepat: Ditemukan kasus di mana makanan dimasak sejak malam hari, namun baru dibagikan siang hari. Jeda waktu yang terlalu lama ini memungkinkan bakteri berkembang biak, terutama jika makanan tidak disimpan dengan baik.
- Kebersihan Dapur dan Bahan Baku: Sanitasi yang buruk di dapur produksi (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG) atau bahan baku yang tidak segar juga menjadi faktor risiko.
- Manajemen dan Pengawasan: Para pakar menyoroti lemahnya tata kelola dan pengawasan terhadap program MBG, terutama dalam hal kualitas dan keamanan pangan. Proses produksi dalam skala besar dan distribusi yang terburu-buru juga disinyalir sebagai pemicu berulangnya kasus keracunan.
Saat ini, pihak kepolisian dan dinas terkait, seperti Badan Gizi Nasional (BGN) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sedang melakukan penyelidikan dengan mengambil sampel makanan dan muntahan korban untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti dari kejadian ini. (inx)


